Alhamdulilahi rabbil ‘alamiin, Pengurus Harian Masjid Al-Ikhlash Jatipadang pada hari Minggu tanggal 29 Januari 2012 telah melaksanakan Rapat Kerja Pengurus tahunan di Museum Listrik Taman Mini Indonesia Indah. Rapat kerja tahunan ini diikuti oleh para pengurus harian dari Bidang 1 (Pendidikan dan Pelatihan), Bidang 2 (Ibadah, Dawah & Pelayanan Umat), Bidang 3 (Ekonomi dan Keuangan), Bidang 4 (Pengawasan & Pengembangan), Sekretariat, Unit Pemberdayaan Perempuan, Media Center, Unit Pelayanan Kesehatan, Unit Pelayanan Zakat, Himpunan Pemuda Pelajar Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, Kelompok Bermain & TKIT Al-Ikhlash, TPA Al-Ikhlash, dan LPLQ.
Dalam Rapat Kerja Tahunan ini secara umum dibahas mengenai kinerja Masjid Al-Ikhlash Jatipadang selama tahun 2011 serta program-program yang akan dilakukan sepanjang 2012. Dari evaluasi kinerja Program Kerja Masjid Al-Ikhlash Jatipadang tahun 2011 didapatkan kesimpulan bahwa indikator pencapaian kinerja secara keseluruhan sepanjang tahun 2011 adalah 56%, sedikit lebih menurun dari pencapaian pada tahun 2010 yang lalu sebesar 57%, dimana pencapaian paling besar dimiliki oleh Unit Pemberdayaan Perempuan yaitu sebesar 72%. Untuk tahun 2012 dicanangkan akan dilakukan 77 program kegiatan yang berbeda yang meliputii program-program yang bersifat rutin yang sudah dilakukan sebelumnya maupun program-program baru.
Pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang memohon doa dan dukungannya dari para Jamaah agar amanah yang Allah SWT berikan kepada para pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang ini dapat diwujudkan dengan penuh keikhlasan dan medapatkan ridho dari-Nya sehingga akan bermanfat bagi seluruh Jamaah dan umat Islam baik dunia maupun akhirat. Amiin.
Masjid Al-Ikhlash Jatipadang Menjadi Masjid Pertama Yang Meraih Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2008
Manajemen dan operasional Masjid ternyata dapat memenuhi praktik pengelolaan yang sesuai standar internasional. Hal ini terbukti ketika Masjid Al-Ikhlash Jatipadang Pasar Minggu Jakarta pada hari ini, Sabtu 2 Juli 201i secara resmi menerima sertifikasi Sistem Manjemen Mutu ISO 9001 : 2008 dari International Standard Certification (ISC) yang berkedudukan di Sydney, Australia. Sertifikat tersebut diserahkan oleh Mr. Rickman J Mather dari ISC kepada H. Budi Suhirman selaku Ketua Umum Masjid Al-Ikhlash Jatipadang di depan jajaran Pimpinan Dewan Masjid Indonesia (DMI) , para pejekabat Pemerintah Pusat maupun DKI Jakarta, Pengurus Masjid-Masjid DKI dan para tamu atau jamaah yang memenuhi ruang serba guna Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.
Bagi lembaga sertifikasi ISC sendiri, seperti yang disampaikan oleh Rickman J Mather, adalah suatu kehormatan dan prestasi yang menggembirakan karana Masjid Al-Ikhlash Jatipadang merupakan Masjid dan lembaga pertama di dunia yang telah di audit dalam proses sertifikasi ISO. Ini berarti diseluruh dunia, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang adalah tempat ibadah yang pertama menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008.
Sementara itu bagi Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, sebagaimana disampaikan oleh H. Budi Suhirman bahwa pencapaian ini merupakan perjalanan dan upaya panjang untuk menyempurnakan manajemen Masjid dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada umat dan jemaah. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan terutama sejak Dewan Masjid Indonesia wilayan DKI Jakarta pada tahun 2009 juga telah menetapkan Masjid Al-Ikhlash Jatipadang sebagai Masjid Unggulan Pertama tingkat wilayah DKI Jakarta.
"Manajemen Masjid yang professional, modern dan berstandard International akan mendukung pengelolaan organisasi dan unit-unit kerja di Masjid Al-Ikhlash yang semakin berkembang sesuai kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Alhamdulillah, Masjid Al-Ikhlash telah memiliki kegiatan dan perangkat organisasi yang ideal sehingga selain berfungsi sebagai tempat ibadah, kami juga juga mengelola unit pelayanan klinik kesehatan lengkap dengan tenaga dokternya, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanan Islam Terpada (KB-TKIT), Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), Lembaga Pendidikan dan Latihan Al-Qur'an (LPLQ), Media Center, Unit Pemberdayaan Perempuan, Pengembangan Ekonomi Islam melalui penyewaan ruang Toko, Perpustakaan, Pelayanan Zakat dan sebagainya. Ke depannya, melalui sistem menajemen mutu ISO 9001 : 2008, kami ingin memiliki kinerja dan pelayanan kepada umat yang lebih baik lagi", demikian keterangan H Budi Suhirman, Ketua Umum Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.
Keseluruhan proses dan audit guna menperoleh sertifikasi ISO 9001 : 2008 terhadap Masjid Al-Ikhlash Jatipadang harus memenuhi standar internasional. Antara lain, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang harus memenuhi standar internasional di bidang Pengendalian Dokumen Mutu dan Catatan Mutu, Pengendalian Produk yang tidak Sesuai, Tindakan Perbaikan dan Pencegahan, Audit Internal, Tinjauan Evaluasi Manajemen, Penanganan Keluhan Jamaah, Pengukuran Kepuasan Jamaah, Pemeliharaan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana, Pengembangan SDM serta pengadaan Barang dan Jasa.
Acara penyerahan sertifikat ISO 9001 : 2008 ini sendiri dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan diawali oleh Tilawah dari Ustad Irham Dongoran Al-Hafidz sebagai ketua LPLQ Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter tentang proses persiapan sertifikasi ISO 9001 : 2008, sambutan dari Ketua Umum Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, Penampilan tim Marawis Al Falah, Tausiyah dari Sekjend DMI Pusat H. M Natsir Zubaidi, Sambutan dari Mr. Rickman J Mather yang mewakili ISC, Penyerahan Sertifikasi ISO 9001 : 2008 dari ISC kepada Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, Sambutan dari Perwakilan Pemerintah DKI Jakarta serta diahkiri pada pukul 12.00 dengan Shalat Dzuhur dan Jamuan makan siang.
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].
[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].
[2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
[3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5].
[4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
[5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].
[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
6. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus,
[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.
7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]
[9] Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Al Ikhlash
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw. dengan berkata: "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Ayat ini (S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Nabi saw. dan diantaranya Ka'bubnul 'asyraf dan Hay bin Akhtab. Mereka berkata: "Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu." Ayat ini (S.112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Sa'id bin Jubair. Dengan riwayat ini Sa'id bin Jubair menegaskan bahwa surat ini Madaniyyah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Ahzab(Persekutuan antara kamu Quraisy, Yahudi Madinah, kaum Goththafan dari Thaif dan munafiqin Madinah dan beberapa suku sekeliling Makkah) berkata: "Lukiskan sifat Tuhanmu kepada kami." Maka datanglah Jibril menyampaikan surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat-sifat Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abil 'Aliyah yang bersumber dari Qatadah.)
Keterangan: Menurut as-Suyuthi kata "al-Musyrikin" dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab ialah musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga surat ini dapat dipastikan Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut di atas dan diperkuat pula oleh riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata: "Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu." Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.