.
Sunday 05th of September 2010    
Banner
<

feed-image Feed Entries
PDF Print E-mail
Artikel
Tuesday, 01 September 2009 05:01

 

Menjaga Produktifitas Jasmaniah Selama Puasa

Sumber : Buletin Masjid Al-Ikhlash Jatipadang

 

Rambu PuasaBulan puasa berarti kita akan beristirahat siang lebih banyak dan bekerja lebih sedikit! Pemikiran ini sering sekali menggelitik kita, atau bahkan mungkin memang ini yang kita lakukan pada saat bulan puasa tiba? Coba perhatikan, di siang hari bulan puasa, banyak masjid maupun mushola di perkantoran yang dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelimpangan untuk tidur di jam-jam produktif. Kemudian secara disadari atau tidak, kita  mengurangi waktu bekerja dengan berangkat ke tempat bekerja lebih lambat dengan alasan  karena malam sebelumnya melakukan shalat Tarawih, Tahajud dan sahur,  sehingga bangun pagi pun lebih lambat daripada waktu biasanya, dan pulang ke rumah lebih cepat dari waktu biasanya dengan alasan karena ingin berbuka puasa bersama keluarga tercinta di rumah. Hal ini menunjukan seolah-olah datangnya bulan puasa menjadi legitimasi untuk memperbanyak jam tidur siang dan mengurangi produktifitas. 

 

Sebelum kita mencoba menyikapi kecenderungan diatas, mari kita tela’ah terlebih dahulu mengapa kita cenderung melakukan hal-hal tersebut : 

 

1.     Produktifitas Rohaniah. Produktifitas menyangkut dua aspek, produktifitas jasmaniah dan produktifitas rohaniah. Dalam bulan puasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah, produktivitas rohaniah meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan di luar Ramadhan. Pada waktu malam hari dalam bulan puasa, kita banyak melaksanakan ibadah sunnat, yaitu shalat tarawih, i'tiqaf, mengaji Al Quran, dzikir sehingga betul-betul produktivitas rohaniah meningkat.


2.     Siklus atau bioritme tubuh. Siklus atau bioritmie tidur kita berubah dalam bulan puasa. Di luar bulan puasa waktu tidur lebih banyak pada malam hari daripada di siang hari. Dalam bulan puasa, karena produktifitas rohaniah meningkat cukup signifikan di malam hari, maka bioritmik dalam hal tidur agak tergangu. Tidur merupakan kebutuhan seperti makan dan minum. Dengan cara apapun kita berusaha untuk menahan kantuk, niscaya semakin tersiksa kita dibuatnya. Karena kita banyak melakukan aktifitas rohani di malam hari, maka tubuh kita pasti akan selalu menuntut lebih banyak tidur di siang harinya.  

 

Dua hal tersebut diataslah yang menyebabkan mengapa di bulan puasa produktifitas kita cenderung untuk menurun dibandingkan pada hari-hari biasa umumnya.  Satu faktor lagi yang sering menjadi alasan, yaitu asupan energi yang berkurang ke dalam tubuh kita. Namun hal tersebut selayaknya tidak boleh kita jadikan alasan. Mengapa? Pada prinsipnya asupan energi yang masuk ke dalam tubuh kita pada bulan puasa, secara kuantitas cenderung tidak berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa pada umumnya. Coba perhatikan : 

·         Makan sahur menjelang fajar secara kuantitas tidak berbeda dengan makan siang di luar bulan puasa.  

·         Berbuka puasa secara kuantitas sama dengan sarapan pagi di hari biasa.  

·         Makan malam setelah pulang dari Masjid untuk Shalat Tarawih secara kuantitas sebanding dengan makan malam pada hari-hari di luar bulan puasa.  

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa  energi yang masuk ke dalam tubuh kita secara kuantitasnya sama saja baik dalam bulan puasa maupun dalam bulan-bulan lainnya. Itu berarti produktifitas jasmaniah orang berpuasa tidak semestinya menurun. 

 

Selanjutnya, meskipun kita menghadapi dua macam perubahan kebiasaan selama bulan puasa seperti disebutkan diatas, bagaimana caranya agar produktifitas jasmaniah kita tetap dapat terjaga? Mudah saja. Ada beberapa tips yang dapat kita terapkan : 

 

1.     Cara pandang (mindset) kita saat ini berdasarkan pengalaman para pendahulu kita.  

 

Dalam sejarah umat Islam, terutama masa Rasulullah dan sahabatnya, justru tercipta beberapa karya tak ternilai pada saat bulan puasa. Kemenangan perang Badar (2 H/624 M) dan penaklukan kota Mekah (8 H/630 M) merupakan suatu contoh nyata . Begitu juga sepeninggal Rasullullah. Sejarah mencatat bahwa kemenangan spektakuler Islam di Spanyol terjadi bulan Ramadhan (91 H/710 M). Sama halnya dengan kemenangan besar perang Salib (584 H/1188 M), sukses melawan Tartar (658 H/1168 M). Bahkan, bangsa Indonesia sendiri memproproklamasi kemerdekaannya pada hari Jum’at , 9 Ramadhan 1364 H.  Orang yang berperang demi agama dan negara saja, yang tentunya sangat membutuhkan energi yang besar dan mengobarkan keutuhan keluarganya, dapat membubuhkan prestasi tak ternilai harganya, apakah tidak malu jika kita yang hanya berperang demi kebutuhan hidup sehari-hari saja harus menurunkan produktifitasnya karena menyerah dengan rasa kantuk dan keinginan untuk sampai kembali ke rumah secepatnya ?   

 

2.     Mengimbangi siklus atau bioritme tubuh dengan mengatur kembali jadwal istirahat. 

 

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa ternyata Rasulullah tidak tidur sebelum shalat Isya namun tidak suka bergadang setelah shalat Isya. Nah, seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat tersebut, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya jam 19.00 atau shalat Tarawih jam 20.30 malam, kita langsung tidur, tidak nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain. Dengan tidur di waktu secepat itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 pagi kita bangun untuk shalat tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 6-7 jam lamanya. Dan tidak ada lagi alasan untuk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari. 

 

3.     Mengatur jadwal makan sahur secara efisien. 

 

Cobalah untuk makan sahur dekat dengan waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sampai setengah jam sebelum masuk waktu imsak. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yang terambil untuk makan sahur, paling banyak hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tidak ada yang berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja. Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 02.00 pagi untuk sahur dan kemudian setelah itu tidak tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk.  

 

InsyaAllah dengan menerapkan ketiga tips sederhana di atas, produktivitas kita di bulan puasa akan tetap terjaga. Sudah selayaknya dalam sisi produktivitas jasmani, hari-hari pada bulan puasa, dijalankan tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Bahkan mungkin seharusnya prestasi kita meningkat, karena bagaimanapun bekerja adalah ibadah. 

 

Selamat menunaikan ibadah puasa dan tetap mengukir prestasi.

 

 

 

 

 

Add comment

Security code
Refresh

Al-Ahad 26 Ramadhan 1431
Shadaqah

Kamus Random Ind-Arab

Kamus Ind arab 4

Pengunjung Online

Ada 2 guests sedang online

Jumlah Pengunjung Website

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini52
mod_vvisit_counterKemarin106
mod_vvisit_counterMinggu Ini926
mod_vvisit_counterBulan Ini499
mod_vvisit_counterTotal20181
Visitors Counter 1.5

Domisili Pengunjung Website

Loading GeoVisitors Map
GeoVisitors for Joomla!

Chat Dengan Media Center

bottom

top

Surat Al Quran Hari Ini

Al Fatihah 

 

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
  

 

2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

[2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

[3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

  

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

 

  

 

4. Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5].

[4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

[5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.

  

 

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

 

6. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus,

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

 

 

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]

[9] Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

 

 

 

 

Al Ikhlash

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw. dengan berkata: "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Ayat ini (S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Nabi saw. dan diantaranya Ka'bubnul 'asyraf dan Hay bin Akhtab. Mereka berkata: "Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu." Ayat ini (S.112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Sa'id bin Jubair. Dengan riwayat ini Sa'id bin Jubair menegaskan bahwa surat ini Madaniyyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Ahzab(Persekutuan antara kamu Quraisy, Yahudi Madinah, kaum Goththafan dari Thaif dan munafiqin Madinah dan beberapa suku sekeliling Makkah) berkata: "Lukiskan sifat Tuhanmu kepada kami." Maka datanglah Jibril menyampaikan surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat-sifat Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abil 'Aliyah yang bersumber dari Qatadah.)

Keterangan:
Menurut as-Suyuthi kata "al-Musyrikin" dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab ialah musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga surat ini dapat dipastikan Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut di atas dan diperkuat pula oleh riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata: "Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu." Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.

 

   

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

 

bottom

Dikembangkan Oleh Media Center Masjid Al-Ikhlash Jatipadang. Designed by: Free Joomla 1.5 Theme, Infinology. Valid XHTML and CSS.