

|
|
|
| Artikel |
| Tuesday, 01 September 2009 05:01 |
|
Menjaga Produktifitas Jasmaniah Selama Puasa Sumber : Buletin Masjid Al-Ikhlash Jatipadang
Sebelum kita mencoba menyikapi kecenderungan diatas, mari kita tela’ah terlebih dahulu mengapa kita cenderung melakukan hal-hal tersebut :
1. Produktifitas Rohaniah. Produktifitas menyangkut dua aspek, produktifitas jasmaniah dan produktifitas rohaniah. Dalam bulan puasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah, produktivitas rohaniah meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan di luar Ramadhan. Pada waktu malam hari dalam bulan puasa, kita banyak melaksanakan ibadah sunnat, yaitu shalat tarawih, i'tiqaf, mengaji Al Quran, dzikir sehingga betul-betul produktivitas rohaniah meningkat.
Dua hal tersebut diataslah yang menyebabkan mengapa di bulan puasa produktifitas kita cenderung untuk menurun dibandingkan pada hari-hari biasa umumnya. Satu faktor lagi yang sering menjadi alasan, yaitu asupan energi yang berkurang ke dalam tubuh kita. Namun hal tersebut selayaknya tidak boleh kita jadikan alasan. Mengapa? Pada prinsipnya asupan energi yang masuk ke dalam tubuh kita pada bulan puasa, secara kuantitas cenderung tidak berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa pada umumnya. Coba perhatikan : · Makan sahur menjelang fajar secara kuantitas tidak berbeda dengan makan siang di luar bulan puasa. · Berbuka puasa secara kuantitas sama dengan sarapan pagi di hari biasa. · Makan malam setelah pulang dari Masjid untuk Shalat Tarawih secara kuantitas sebanding dengan makan malam pada hari-hari di luar bulan puasa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa energi yang masuk ke dalam tubuh kita secara kuantitasnya sama saja baik dalam bulan puasa maupun dalam bulan-bulan lainnya. Itu berarti produktifitas jasmaniah orang berpuasa tidak semestinya menurun.
Selanjutnya, meskipun kita menghadapi dua macam perubahan kebiasaan selama bulan puasa seperti disebutkan diatas, bagaimana caranya agar produktifitas jasmaniah kita tetap dapat terjaga? Mudah saja. Ada beberapa tips yang dapat kita terapkan :
1. Cara pandang (mindset) kita saat ini berdasarkan pengalaman para pendahulu kita.
Dalam sejarah umat Islam, terutama masa Rasulullah dan sahabatnya, justru tercipta beberapa karya tak ternilai pada saat bulan puasa. Kemenangan perang Badar (2 H/624 M) dan penaklukan kota Mekah (8 H/630 M) merupakan suatu contoh nyata . Begitu juga sepeninggal Rasullullah. Sejarah mencatat bahwa kemenangan spektakuler Islam di Spanyol terjadi bulan Ramadhan (91 H/710 M). Sama halnya dengan kemenangan besar perang Salib (584 H/1188 M), sukses melawan Tartar (658 H/1168 M). Bahkan, bangsa Indonesia sendiri memproproklamasi kemerdekaannya pada hari Jum’at , 9 Ramadhan 1364 H. Orang yang berperang demi agama dan negara saja, yang tentunya sangat membutuhkan energi yang besar dan mengobarkan keutuhan keluarganya, dapat membubuhkan prestasi tak ternilai harganya, apakah tidak malu jika kita yang hanya berperang demi kebutuhan hidup sehari-hari saja harus menurunkan produktifitasnya karena menyerah dengan rasa kantuk dan keinginan untuk sampai kembali ke rumah secepatnya ?
2. Mengimbangi siklus atau bioritme tubuh dengan mengatur kembali jadwal istirahat.
Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa ternyata Rasulullah tidak tidur sebelum shalat Isya namun tidak suka bergadang setelah shalat Isya. Nah, seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat tersebut, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya jam 19.00 atau shalat Tarawih jam 20.30 malam, kita langsung tidur, tidak nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain. Dengan tidur di waktu secepat itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 pagi kita bangun untuk shalat tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 6-7 jam lamanya. Dan tidak ada lagi alasan untuk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari.
3. Mengatur jadwal makan sahur secara efisien.
Cobalah untuk makan sahur dekat dengan waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sampai setengah jam sebelum masuk waktu imsak. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yang terambil untuk makan sahur, paling banyak hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tidak ada yang berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja. Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 02.00 pagi untuk sahur dan kemudian setelah itu tidak tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk.
InsyaAllah dengan menerapkan ketiga tips sederhana di atas, produktivitas kita di bulan puasa akan tetap terjaga. Sudah selayaknya dalam sisi produktivitas jasmani, hari-hari pada bulan puasa, dijalankan tidak berbeda dengan hari-hari biasanya. Bahkan mungkin seharusnya prestasi kita meningkat, karena bagaimanapun bekerja adalah ibadah.
Selamat menunaikan ibadah puasa dan tetap mengukir prestasi.
|
![]() |






![]() | Hari Ini | 52 |
![]() | Kemarin | 106 |
![]() | Minggu Ini | 926 |
![]() | Bulan Ini | 499 |
![]() | Total | 20181 |


Dikembangkan Oleh Media Center Masjid Al-Ikhlash Jatipadang. Designed by: Free Joomla 1.5 Theme, Infinology. Valid XHTML and CSS.