.
Sunday 05th of September 2010    
Banner
<

feed-image Feed Entries
Artikel
PDF Print E-mail
Artikel
Saturday, 26 June 2010 06:54

 

Tiada Hari Tanpa Menuntut Ilmu di Masjid Al Ikhlash Jati Padang:

Pengalaman Seorang Jamaah

Oleh:  H. A. Ashari

 

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Muajadilah 11)

 

Pengajian Subuh

Hari masih gelap, menjelang fajar. Sisa hujan tadi malam menyisakan udara dingin tapi menyegarkan.  Bilal mengumandangkan azan Subuh di Masjid Al Ikhlash Jati Padang. Satu persatu jamaah berjalan menuju rumah Allah Subhanahu wa ta’ala dalam langkah kecil tiada tergesa.

Ingatan pun melayang pada musim Haji di Masjidil Haram. Betapa hamba-hamba Allah SWT, di pagi yang belum terang tanah,  dalam pakaian serba putih, berduyun-duyun memadati jalanan menuju Baitullah. Perjalanan untuk salat Subuh ke Masjid Al Ikhlash itu, dalam miniatur yang jauh lebih mini, seolah menyegarkan ingatan tentang atmosfir perjalanan serupa, ke Baitullah.

 
PDF Print E-mail
Artikel
Tuesday, 01 September 2009 05:01

 

Menjaga Produktifitas Jasmaniah Selama Puasa

Sumber : Buletin Masjid Al-Ikhlash Jatipadang

 

Rambu PuasaBulan puasa berarti kita akan beristirahat siang lebih banyak dan bekerja lebih sedikit! Pemikiran ini sering sekali menggelitik kita, atau bahkan mungkin memang ini yang kita lakukan pada saat bulan puasa tiba? Coba perhatikan, di siang hari bulan puasa, banyak masjid maupun mushola di perkantoran yang dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelimpangan untuk tidur di jam-jam produktif. Kemudian secara disadari atau tidak, kita  mengurangi waktu bekerja dengan berangkat ke tempat bekerja lebih lambat dengan alasan  karena malam sebelumnya melakukan shalat Tarawih, Tahajud dan sahur,  sehingga bangun pagi pun lebih lambat daripada waktu biasanya, dan pulang ke rumah lebih cepat dari waktu biasanya dengan alasan karena ingin berbuka puasa bersama keluarga tercinta di rumah. Hal ini menunjukan seolah-olah datangnya bulan puasa menjadi legitimasi untuk memperbanyak jam tidur siang dan mengurangi produktifitas. 

 
PDF Print E-mail
Artikel
Sunday, 26 April 2009 09:17

 

Hikmah Jihad, Perjuangan Yang Sejati

Sumber : Buletin Maret 2009 Masjid Al Ikhlash Jatipadang

 

JihadIslam adalah satu agama yang telah diutuskan Allah dengannya Rasul-rasul dan nabi nabi semenjak dahulu lagi. Kemudian, Allah mengutuskan dengannya Nabi kita Muhamad saw dan Allah telah menjadikan Islam untuk manusia hingga ke hari kiamat. Dan ia (Islam) adalah satu agama dan negara yang mengatur kehidupan manusia serta perhubungan-perhubungannya dan mengarahkan mereka kepada risalah mereka di dunia supaya mereka berbahagia di akhirat. Dan ia adalah satu agama perdamaian, keamanan, kemerdekaan, dan keadilan. Ia adalah agama kecintaan, kasih sayang, tolong menolong dan imbang mengimbangi, ia menyuruh dengan segala yang baik dan melarang dari segala yang buruk. Allah juga telah menjadikan Jihad sebagai satu kewajiban penyudah ke atas orang-orang Islam sehinggalah hari kiamat, ia mendorong orang Islam supaya cinta kepada mati Syahid, serta meninggikan kedudukan para syuhada. Tanpa Jihad tidak berdirilah tunggak bagi agama ini, maka tersebarlah kebatilan serta meratalah kerosakan. Allah swt telah memerintahkan orang-orang Islam supaya bersiap sedia dengan kekuatan dengan firmannya :

 
PDF Print E-mail
Artikel
Saturday, 28 March 2009 18:55

 

Bukti Kebenaran Al Quran

Oleh : Dr. M. Quraish Shihab

 

Alquran

Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Di antaranya adalah menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap. Pertama, menantang siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan (baca QS 52:34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam Al-Quran (baca QS 11:13). Seluruh Al-Quran berisikan 114 surah. Ketiga, menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam Al-Quran (baca QS 10:38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah dari Al-Quran (baca QS 2:23).

 


Al-Ahad 26 Ramadhan 1431
Shadaqah

Kamus Random Ind-Arab

 

Kamus Ind Ing 1

Pengunjung Online

Ada 2 guests sedang online

Jumlah Pengunjung Website

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini46
mod_vvisit_counterKemarin106
mod_vvisit_counterMinggu Ini920
mod_vvisit_counterBulan Ini493
mod_vvisit_counterTotal20176
Visitors Counter 1.5

Domisili Pengunjung Website

Loading GeoVisitors Map
GeoVisitors for Joomla!

Chat Dengan Media Center

bottom

top

Surat Al Quran Hari Ini

Al Fatihah 

 

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
  

 

2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

[2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

[3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

  

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

 

  

 

4. Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5].

[4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

[5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.

  

 

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

 

6. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus,

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

 

 

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]

[9] Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

 

 

 

 

Al Ikhlash

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw. dengan berkata: "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Ayat ini (S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Nabi saw. dan diantaranya Ka'bubnul 'asyraf dan Hay bin Akhtab. Mereka berkata: "Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu." Ayat ini (S.112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Sa'id bin Jubair. Dengan riwayat ini Sa'id bin Jubair menegaskan bahwa surat ini Madaniyyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Ahzab(Persekutuan antara kamu Quraisy, Yahudi Madinah, kaum Goththafan dari Thaif dan munafiqin Madinah dan beberapa suku sekeliling Makkah) berkata: "Lukiskan sifat Tuhanmu kepada kami." Maka datanglah Jibril menyampaikan surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat-sifat Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abil 'Aliyah yang bersumber dari Qatadah.)

Keterangan:
Menurut as-Suyuthi kata "al-Musyrikin" dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab ialah musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga surat ini dapat dipastikan Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut di atas dan diperkuat pula oleh riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata: "Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu." Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.

 

   

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

 

bottom

Dikembangkan Oleh Media Center Masjid Al-Ikhlash Jatipadang. Designed by: Free Joomla 1.5 Theme, Infinology. Valid XHTML and CSS.