.
Wednesday 10th of March 2010    

Pustaka/Artikel Terbaru

<

feed-image Feed Entries
Beranda
PDF Print E-mail
Berita Terkini
Sunday, 28 February 2010 20:50

 

Rapat Kerja Tahun 2010 

Pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang

 

Rapat Kerja Pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang 2010

 

Alhamdulilahi rabbil ‘alamiin . Pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang secara resmi telah men-syahkan program kerja tahun 2010 melalui Rapat Kerja Pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang 2010 yang dilakukan di UDIKLAT PT. PLN (Persero) Bogor hari Jum’at 26 Februari hingga hari Sabtu  27 Februari 2010 yang lalu.  Acara yang dipimpin oleh Ketua Umum Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, Bpk. H. Budi Suhirman, MSc. MBA, dan diikuti oleh seluruh Ketua Bidang dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) – Badan Otonom ini telah menghasilkan program-program kerja yang InsyaAllah menjadi bahan perbaikan dan peningkatan dari program-program kerja tahun 2009, agar Masjid Al-Ikhlash Jatipadang dapat senantiasa melaksanakan visi dan misi-nya.

 

Melalui proses Sidang Pleno, Rapat Komisi dan Sidang Paripurna dalam Rapat Kerja Pengurus 2010 ini, masing-masing Ketua Bidang dan UPP beserta anggota tim kerja-nya, berkomitmen untuk dapat lebih memberikan pelayanan yang lebih baik kepada jamaah Masjid Al-Ikhlash Jatipdang pada khususnya dan Masyarakat Muslim pada umumnya. Pelayanan yang lebih baik ini akan diwujudkan dengan memperhatikan hasil eveluasi dan masukan daru program kerja Masjid Al-Ikhlash Jatipadang tahun 2009 yang sudah terealisasi.

 

Pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang memohon doa dan dukungannya dari para Jamaah maupun Masyarakat Islam agar amanah yang Allah SWT berikan kepada para pengurus Masjid Al-Ikhlash Jatipadang ini dapat diwujudkan dengan penuh keikhlasan dan medapatkan ridho dari-Nya sehingga akan bermanfat bagi seluruh Jamaah dan umat Islam  baik dunia maupun akhirat. Amiin.

 
PDF Print E-mail
Berita Terkini
Thursday, 07 January 2010 23:17

 

Masjid Al-Ikhlash Jatipadang Sebagai

Masjid Masyarakat Terbaik se-DKI Jakarta 2009

 

Alhamdulillahi Rabbilalamin, setelah sebelumnya Masjid Al-Ikhlash Jatipadang dinobatkan sebagai Masjid Masyarakat terbaik se-Jakarta Selatan pada tanggal 1 Agustus 2009 yang lalu, maka melalui penilaian yang dilakukan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jakarta selanjutnya, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang kembali dinobatkan sebagai Masjid Masyarakat Terbaik untuk tingkat provinsi DKI Jakarta pada tanggal 30 Desember 2009.  Masjid Al-Ikhlash Jatipadang mendapatkan predikat sebagai Masjid Masyarakat Terbaik Provinsi DKI Jakarta setelah melalui lomba Binaul Masjid tingkat Provinsi DKI Jakarta 2009 berhasil mengumpulkan nilai 16.075 yang kemudian diikuti oleh Masjid Salman Al-Farizi, Jakarta Timur dengan nilai 15.055 sebagai peringkat kedua, Masjid Barut Thoyyib, Jakarta Utara dengan nilai 14.830 sebagai peringkat ketiga. Sedangkan untuk peringkat harapan pertama diraih Masjid Baitul Mutaqin, Jakarta Barat dengan nilai 14.230, dan peringkat harapan kedua diraih oleh Masjid Al-Ikhwan, Jakarta Pusat dengan meraih nilai 13.820.

Selanjutnya...
 
Al-Arba'aa 25 Rabiul awal 1431
Shadaqah

Kamus Random Ind-Arab

Kamus Ind arab

Pengunjung Online

Ada 1 guest sedang online

Jumlah Pengunjung Website

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini5
mod_vvisit_counterKemarin58
mod_vvisit_counterMinggu Ini118
mod_vvisit_counterBulan Ini505
mod_vvisit_counterTotal6295
Visitors Counter 1.5
bottom

top

Surat Al Quran Hari Ini

Al Fatihah 

 

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
  

 

2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

[2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

[3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

  

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

 

  

 

4. Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5].

[4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

[5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.

  

 

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

 

6. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus,

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

 

 

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]

[9] Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

 

 

 

 

Al Ikhlash

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw. dengan berkata: "Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu." Ayat ini (S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Nabi saw. dan diantaranya Ka'bubnul 'asyraf dan Hay bin Akhtab. Mereka berkata: "Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu." Ayat ini (S.112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Sa'id bin Jubair. Dengan riwayat ini Sa'id bin Jubair menegaskan bahwa surat ini Madaniyyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Ahzab(Persekutuan antara kamu Quraisy, Yahudi Madinah, kaum Goththafan dari Thaif dan munafiqin Madinah dan beberapa suku sekeliling Makkah) berkata: "Lukiskan sifat Tuhanmu kepada kami." Maka datanglah Jibril menyampaikan surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat-sifat Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abil 'Aliyah yang bersumber dari Qatadah.)

Keterangan:
Menurut as-Suyuthi kata "al-Musyrikin" dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab ialah musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga surat ini dapat dipastikan Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut di atas dan diperkuat pula oleh riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata: "Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu." Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.

 

   

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

 

bottom

Dikembangkan Oleh Media Center Masjid Al-Ikhlash Jatipadang. Designed by: Free Joomla 1.5 Theme, Infinology. Valid XHTML and CSS.